Kuliner nusantara memang kaya, baik dari segi citarasa maupun namanya. Namun ada beberapa usaha kuliner yang memilih nama unik, bahkan cenderung ekstrem.

WARUNG Bebek Ndower di Taman Raya menyajikan bebek pedas yang bisa bikin bibir dower. F. Cecep Mulyana/Batam Pos

WARUNG Bebek Ndower di Taman Raya menyajikan bebek pedas yang bisa bikin bibir dower.
F. Cecep Mulyana/Batam Pos

”Supaya konsumen lebih mudah mengingatnya,” ujar “Mashuri, pemilik warung Bakso Petir, beberapa waktu lalu.

Bagi Mashuri, selain rasa, nama merupakan salah satu pemikat konsumen dalam industri kuliner. Nama tersebut menarik dan mudah diingat di yakini akan menghadirkan hoki tersendiri.

Karena dari nama yang menarik, seseorang akan timbul rasa penasaran dan kemudian akan mencobanya. Dan ketika rasanya juga cocok, maka akan sangat mudah menggaet konsumen tersebut menjadi pelanggan setia.

”Untuk itu soal rasa dan kualitas menu juga harus diperhitungkan dengan matang,” kata Mashuri saat ditemui di kedainya di Ruko KDA Batamcenter.

Mengenai nama ‘Petir’ yang ia sematkan pada brand baksonya, Mashuri punya cerita. Kata dia, ini merupakan brand kuliner yang kesekian kalinya yang pernah ia coba.

”Dulu bolak balik gagal dan sering ganti nama,” ujar pria asli Malang, Jawa Timur, ini.

Awalnya pada tahun 2008, Mashuri merintis usaha bakso. Pada saat itu Mashuri mempercayakan kepada seorang karyawan untuk belajar membuat bakso di Pekanbaru. Karena saat itu Mashuri sendiri masih berstatus sebagai karyawan di perusahaan swasta di Batam.

”Saya membiayai sekolah dia dan menggaji karyawan tersebut untuk belajar membuat bakso,” ucapnya sambil mengenang.

Setelah karyawan tersebut belajar dan bisa, barulah Mashuri membuka warung bakso. Saat itu, dia menggunakan nama Bakso Gledek. Namun ternyata nama itu kurang membawa hoki. Dia menduga, banyak orang Batam yang tak tahu apa artinya.

”Di Batam banyak suku, jadi mereka tidak akan mengerti dengan kalimat gledek. Maka saya mengganti menjadi petir, supaya bisa dimengerti oleh masyarakat selain Jawa,” ucapnya.

Hasilnya ternyata cukup manjur. Sejak berganti nama menjadi Bakso Petir, warung bakso Mashuri mulai ramai pengunjung.

Bahkan mulai ada pelanggan tetap. Karena selain namanya unik, mereka mengaku rasa baksonya lumayan enak.

Namun seiring berjalannya waktu, ada saja pelanggannya yang penasaran dengan nama ‘Petir’ tersebut. Sebab bakso yang dijajakan di kedai Mashuri adalah bakso seperti pada umumnya. Tidak ada ‘petir’ nya.

Hingga Mashuri mencoba membuat kreasi bakso yang merepresentasikan kata ‘petir’ itu. Konsepnya sederhana, yakni bakso pedas.

Dalam Bakso Petir ini, Mashuri menambahkan cabai rawit yang dihaluskan. Tentu saja, jika dimakan akan menhadirkan sensasi pedas. Sehingga pelanggan yang menemukan Bakso Petir ini akan merasa seperti tersambar petir.

”Biasanya orang kena petir, rambut berdiri, dan wajah memerah, jadi kami membuat bakso yang ketika dimakan, orang yang memakannya akan kepedasan sehingga rambut berdiri dan muka memerah menahan pedas dari bakso itu,” paparnya lantas tertawa.

Sejak adanya bakso petir itu, warung bakso milik Mashudi menjadi berkembang hingga mempunyai lima cabang. Yakni di Batamcentre, Tiban Center, Nagoya, Nagoya Newtown dan Bengkonglaut.

”Alhamdullillah nama ini sudah saya patenkan, dan merupakan Bakso Petir satu-satunya di Batam,” imbuh Mashuri.

”Kami hanya cukup beriklan gratis, dengan petir. Ada petir pasti ingat bakso petir.”

Hampir sama dengan Mashudi. Sri pemilik warung Bebek Ndower di kawasan Taman Raya, Batamcenter, juga melalui proses panjang sebelum memulai bisnis kuliner dengan menu utama bebek ini. Sebelumnya, bersama suami, dia sudah menjalankan usaha bengkel hingga toko kelontong.

Namun usaha terdahulu Sri kurang sukses. Hingga akhirnya dia banting setir dengan menggeluti bisnis kuliner, hinggga saat ini. Itupun ia lakoni setelah mendapat banyak masukan dari para tetangganya. Awalnya, Sri yang memang hobi masak kerap membagikan kreasi masakannya ke tetangga. Dan ternyata mereka menyukai masakan Sri itu.

”Buka warung makan aja buk, masakannya enak, ntar pasti banyak yang suka,” ujar Sri menirukan ucapan tetangganya.

Sesuai dengan namanya, warung Bebek Ndower memang memiliki menu andalan berbahan dasar daging bebek. Baik bebek panggang maupun goreng. Namun yang membuat istimewa menu bebek di Bebek Ndower sensasi super pedas dari sambal cabai hijaunua.

”Selesai makan dijamin bibirnya dower karena kepedasan,” ujar Sri.

Sri menambahkan bebek yang digunakan merupakan bebek peking muda sehingga dagingnya masih empuk. Bebek kalau tidak diolah dengan baik dan benar, akan menghasilkan bau dan rasa yang amis. Tetapi Sri sudah berpengalaman agar bebek tidak amis lagi.

”Banyak yang bilang tidak amis, dan suka dengan bebek saya,” imbuh Sri.

Ibu empat anak ini sudah mengembangkan usaha warung makannya sudah hampir tujuh tahun. pelangganannya sudah banyak, sebut saja warga Tanjunguma, Batuaji, Sagulung, Punggur, Bengkong, Jodoh, dan lainnya.

”Banyak mereka yang ke sini, katanya penasaran ingin mencoba, referensi dari teman-teman,” ujar Sri.

Selain Bebek Ndower dan Bakso Petir, Batam juga memiliki ragam kuliner dengan nama yang tak kalah unik. Misalnya Ayam Pemudi. Masakan khas Jawa Timur ini berbahan dasar daging ayam goreng. Dan memang sangat disukai oleh pemudi-pemudi karena rasanya yang pas di lidah dan menjadi primadona pemudi-pemudi.

”Memiliki kekhasan rasa tersendiri dengan racikan bumbu khas seperti jahe, lengkuas, kunyit, cabai, santan dan bumbu masakan lainnya,” ujar Iwan, pengelola rumah makan Ayam Goreng Pemudi Batam.

Menu ini diracik dengan bumbu yang direndam selama empat sampai lima jam untuk memberikan rasa yang berbeda dari ayam goreng pada umumnya. ”Kenikmatan bumbu akan meresap sempurna, hingga terasa sampai tulang daging ayam,” jelasnya.

Warung Ayam Pemudi yang beralamat di komplek Ruko Jodoh Point Blok C nomor 9, seberang hotel Novotel, Jodoh, ini bisa menjadi referensi makanan untuk para pemudi. Dan akan lebih pas jika bersama pasangannya. (LENNI JULIA, Batam)

Komentar

komentar